BOYONG NATAPRAJA 2024
- Jun 14, 2024
- Kiman
- Sejarah
Pemerintah Kabupaten Nganjuk untuk kedua kalinya menggelar wisata budaya boyong Noto Projo. Prosesi ini diawali dari Alun-alun Berbek menuju Pendopo Kabupaten Nganjuk, Kamis 6 Juni 2024. Dengan naik kereta kuda yang telah dihias Pejabat Bupati Nganjuk Sri Handoko Taruno, SSTP MSI, beserta istri , yang diikuti forkopimda dan pejabat eselon 2 beserta para camat sekabupaten Nganjuk bergerak menuju Nganjuk melewati wilayah Berbek, Loceret hingga wilayah Kecamatan Nganjuk. Diantara rombongan terdapat pula pembawa pusaka dan ubo rampe atau properti prosesi tradisional boyongan misalnya kembang setaman, damar ublik, sapu gerang, banyu panguripan, janur kuning, cengkir gading, tebu, padi dan juga tikar lengkap bantal guling.
Seluruh rombongan berhenti didepan taman nyawiji untuk selanjutnya mereka berjalan kaki menuju Pendopo Kabupaten Nganjuk. Prosesi boyong noto projo ini napak tilas sejarah hampir 150 tahun silam. Pada tahun 1875 Bupati Berbek Raden Tumenggung Sumowiloyo yaitu ayah Sosrokusumo III mengusulkan kepada Residen Kediri pusat pemerintahan kabupaten berbek dipindah ke kota nganjuk. Sambil menunggu pembangunan infrastruktur seperti rel kereta api, kantor pos, pegadaian dan rumah sakit, hingga 5 tahun kemudian tepatnya tanggal 6 juni 1880 direalisasi perpindahan kabupaten berbek ke nganjuk diera kepemimpinan bupati sosro kusumo III.