KH. Dahlan Abdul Qohar || Pendiri NU dari Kertosono yang Namanya Terlupakan

  • Feb 08, 2023
  • KIMM Candra Lintang
  • Sejarah

KH. Dahlan Abdul Qohar lahir pada Bulan Maret 1897 di Kertosono, ia dikenal sebagai ulama yang cerdas dan berpendidikan tinggi. Ia adalah lulusan sekolah jaman Belanda HIS dan MULO. Hal ini menjadikannya sangat fasih berbahasa Belanda, Selanjutnya KH. Dahlan memperdalam ilmu agama Islam di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dan Pondok Pesantren Jamsaren Solo. Ia juga pernah mengenyam pendidikan Madrasah Tsanawijah di Makkah, sehingga membuatnya sangat fasih berbahasa Arab dan berwawasan luas.

Pada tahun 1920, KH. Dahlan bekerja kontraktor di jawatan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda. Sebuah pekerjaan yang cukup bergengsi dan berpenghasilan tinggi pada saat itu. Namun pada tahun 1923, ia berhenti dari pekerjaannya dan memilih menjadi Imam Masjid dan Guru Madrasah di Kertosono.

Pada tahun 1925, atas restu dari KH. Hasyim Asyari, maka KH. Dahlan dipilih sebagai anggota Komite Hijaz bersama dengan dua orang ulama lainnya yaitu KH. Abdul Wahab Hasbullah dan Syaikh Ghanaim al-Misri. Komite ini berperan besar dalam mencegah dominasi kaum Wahabi di Saudi Arabia saat itu. Juga mendesak pemerintah Arab Saudi agar memberi kebebasan kepada umat Islam di Arab untuk melakukan ibadah sesuai dengan madzhab yang mereka anut. Langkah Komite Hijaz ini membuat ulama-ulama Islam Nusantara sangat disegani di mata negara-negara Islam dan dunia internasional. 

Menyadari akan besarnya peran Komite Hijaz, maka dikembangkanlah organisasi Islam yang lebih besar. Pada tanggal 31 Januari 1926, KH. Dahlan menjadi salah satu anggota yang mengesahkan berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama (NU) yang berhaluan Ahlulsunah wal jamaah. Sementara KH. Dahlan sendiri didaulat menjabat sebagai sekretaris PBNU yang berkantor di Surabaya.

KH. Dahlan juga adalah seorang jurnalis yang sangat piawai dalam menulis. Pada tahun 1930, ia merintis Tabloid "Suara Nahdlatul Ulama" dan ia sendiri menjadi pimpinan redaksinya. Suara Nahdlatul Ulama menjadi saluran informasi agama dan isu-isu kebangsaan bagi umat Islam pada masa akhir kolonial Belanda. Media tersebut berperan besar sebagai penggalang persatuan bangsa yang saat itu masih terkotak-kotak dengan latar belakang suku, budaya dan daerah yang berbeda.

Ketika masa pendudukan Jepang di Nusantara, KH. Dahlan bergabung ke dalam organisasi Barisan Pelopor atau Suishintai yang dibentuk oleh Ir. Sukarno pada tahun 1944. Suishintai bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dan mempererat persaudaraan rakyat untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1945, KH. Dahlan ditunjuk sebagai penghulu atau Kepala Departemen Agama di Kabupaten Nganjuk. Pada tahun 1952, KH. Dahlan berperan di bidang politik sebagai salah satu pendiri Partai Nahdlatul Ulama. Kharisma besarnya mampu menyedot massa yang besar dari masyarakat Nganjuk untuk bergabung ke dalam Partai Nahdlatul Ulama. Hal ini menjadikan Partai Kominis Indonesia (PKI) sulit berkembang di Nganjuk.

Pada Pemilu tahun 1955, Partai NU berhasil menjadi partai terbesar kedua di Kabupaten Nganjuk setelah PNI. Dalam pemilu tersebut. KH. Dahlan terpilih menjadi perwakilan anggota konstituante dari Nganjuk yang bertugas dari tahun 1956 hingga 1959. Di masa tuanya, KH. Dahlan dikenal tetap penuh semangat mengabdikan hidupnya dalam organisasi Nahdlatul Ulama di Kabupaten Nganjuk.

KH. Dahlan juga dikenal sebagai ulama sekaligus jawara yang aktif dalam kegiatan pencak silat di Kabupaten Nganjuk. Setiap kali ada pertemuan atau pagelaran pencak silat di Kabupaten Nganjuk, sosok KH, Dahlan tidak pernah absen menghadirinya, bahkan tidak segan untuk turut mendemonstrasikan diri bersama para pesilat lainnya.

KH. Dahlan Abdul Qohar wafat pada usia yang lanjut, yaitu pada tanggal 11 Desember 1975 dan dimakamkan di Desa Banaran Kecamatan Kertosono. Namun sayangnya, nama KH. Dahlan kian tenggelam seiring waktu dan tidak populer dalam narasi tentang sejarah Nahdlatul Ulama. Walaupun sesungguhnya tokoh tersebut berperan besar sebagai salah satu pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia itu.

Berita selengkapnya klik link berikut

Referensi :

- Arsip Konstituante Republik Indonesia

- Kesaksian KH. A. Qulyubi Dahlan, pengasuh Pondok Mifthahul Huda, Keringan, Mangundikaran Nganjuk,

-Ahmad Zahro, 2004. Tradisi Intelektual NU. Yogyakarta: LKIS Pelangi Aksara